007 - med

Rektor Institut Pertanian Bogor Prof Herry Suhardyanto menyatakan siap menerima tantangan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk membuat laboratorium Ekowisata, “Sangat siap, kita sudah lama mempunyai program studi bahkan departemen konservasi sumberdaya hutan dan ekowisata,” kata Rektor saat ditemui usai peresmian gedung pendidikan IPB di Kampus IPB Dramaga, Bogor.

Menurut Rektor, tantangan dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bisa diwujudkan karena IPB sudah memiliki keilmuan terkait ekowisata. Ia mengatakan, keilmuan ekowisata ada di IPB tepatnya di Fakultas Kehutanan, dimana selain ada program studi ekowisata juga ada Departemen Konservasi sumber daya hutan dan ekowisata, “Kita juga sudah banyak bekerjasama dengan sejumlah pihak untuk Bidang Ekowisata. Salah satun yang sudah dikembangkan yaitu “marine tourism” di Wakatobi yang menjadi salah satu tujuan wisata, adventure, di hutan, di kawasan konservasi dan masih banyak lagi,” kata Rektor.

Tidak hanya itu, lanjut Rektor, IPB juga sudah banyak mempelajari daerah-daerah konservasi yang berkaitan dengan ekowisata.

Rektor mengungkapkan, di IPB laboratorium ekowisata tersebut sudah ada, meski dalam skala kecil dan banyak bekerjasama dengan kementerian kehutanan, perhutani dan Pemda setempat.

Menurut Rektor, yang terpenting dalam tantangan ini adalah menggaungkan lagi ekowisata menjadi salah satu pusat nasional ekowisata agar lebih bagus lagi, “SDM kita punya, kita siap. Kita selalu meluluskan sarjana dan magister, doktor di bidang ini. Fasilitas, pengalam semua sudah kita miliki tinggal ditingkatkan konsep dan programnya,” kata Rektor.

Sebelumnya, Direktur Pengembangan Wisata Minat Khusus, Konvensi, Insentif, dan Event Ditjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Achyaruddin menantang IPB mempunyai laboratorium ekowisata, “Laboratorium Ekowisata itu bukan sekadar dapat meluluskan sarjana S2 dan S3 melainkan di dalamnya ada proses pembelajaran di mana masyarakat bisa melihat aplikasi teori dan praktiknya,” katanya pada lokakarya bertema “Optimasi Program Studi Pascasarjana Manajemen Ekowisata dan Jasa Lingkungan (MEJL) di Fakultas Kehutanan IPB, Kampus Darmaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (24/4) kemarin.

Jika IPB mempunyai laboratorium ekowisata, maka akan menjadi rujukan paripurna, yakni secara teori maupun praktik, dalam ekowisata itu terkandung dua hal, yakni alam dan budaya, sehingga dibutuhkan studi dan kajian, serta bagaimana aplikasinya di dalam upaya “menjual” potensi wisata Indonesia yang beragam dan kaya.